Kiat Meraih Sukses Dengan Berani Mengambil Risiko Tinggalkan Zona Nyaman

 


Pada masa pandemi yang disebabkan oleh virus Covid-19 ini mau tak mau membuat pemerintah Indonesia memberlakukan sistem daring atau online learning untuk pelajar serta mahasiswa, beberapa kantor dan perusahaan pun menerapkan hal yang serupa guna mengurangi kemungkinan terjadinya penyebaran virus yang lebih meluas, hingga dikhawatirkan akan menjadi masalah bersama bila tidak diantisipasi sejak dini. Namun ternyata jalan keluar yang diberikan oleh pemerintah ini tak sepenuhnya menjadi angin segar untuk masyarakat Indonesia, khususnya untuk mereka yang berjejaring di dunia pendidikan: baik itu siswa, mahasiswa, staf pengajar, dan lain sebagainya.

Mungkin pada awalnya siswa, mahasiswa, dan staf pengajar tak merasakan keberatan akan intruksi pemerintah yang mengharuskan semua pembelajaran dilakukan secara daring, mereka merasakan sebuah aktivitas baru yang membuat mereka nyaman, seperti tak perlu menghabiskan waktu dan biaya untuk pergi ke sekolah/kampus, tak perlu bergegas mengerjakan tugas, memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia serta kembali menikmati waktu berkumpul yang berkualitas dengan orang-orang terkasih yang terangkum dalam program pemerintah #dirumahsaja.

Waktu berlalu, ternyata situasi pandemi virus Covid-19 ini tidak juga menunjukan kondisi yang bersahabat. Tercatat sebanyak 478.720 warga Indonesia yang diketahui positif terpapar virus Covid-19 ini. Kemudian 402.347 kasus warga Indonesia dinyatakan sembuh dan sebanyak 15.503 orang pasien dinyatakan meninggal dunia per 18 November 2020 lalu. Jumlah tersebut bukanlah suatu hal yang dapat dihiraukan, baik masyarakat, pemerintah, tim kesehatan, juga dinas terkait terus mencari jalan keluar lain untuk segera membawa kondisi ini kepada tingkatan yang lebih baik, mengingat banyaknya lini yang terganggu akibat adanya pandemi ini.

Selain kondisi ekonomi yang mengalami penurunan secara signifikan dampak psikologis akibat pandemi Covid-19 juga diduga akan bertahan lama, para pakar kesehatan dan psikologi memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, bahkan lebih lama dari pandemi itu sendiri. Hal tersebut bisa disebabkan karena adanya gangguan-gangguan yang terjadi selama proses kegiatan online learning ini.

Pada saat sekolah ataupun kuliah online sedang dilaksanakan, terdapat banyak gangguan yang memicu ketidak fokusan guru/dosen dalam menyampaikan materi serta para siswa/mahasiswa dalam menerima materi. Beberapa faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Keterbatasan memahami cara guna teknologi

Tidak bisa dipungkiri bahwa Covid-19 cukup menggemparkan dunia, banyak pihak yang kurang memiliki kesiapan dalam menghadapinya, termasuk sebagian besar masyarakat Indonesia kurang terbiasa akan penggunaan teknologi. Beberapa perusahaan berusaha untuk meningkatkan mutu dalam mengambil peran dengan sebaik-baiknya pada saat ini guna membantu sesama manusia dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Banyak pihak juga yang kemudian membantu masyarakat Indonesia dalam mengedukasi aplikasi-aplikasi yang dapat menopang jalannya pembelajaran dengan baik. Namun tetap saja setiap individu merespon dengan berbeda, mereka memiliki daya tersendiri dalam memahami suatu ilmu baru yang tak bisa dipaksakan untuk bisa sama rata.

2. Bantuan pemerintah dalam pemberian subsidi kuota tidaklah merata

Selain meningkatkan mutu pada setiap aplikasi yang menjadi andalan dalam kegiatan online learning ini, pemerintah kemudian berjanji untuk memberikan dukungan lain seperti pemberian kuota gratis pada siswa dan mahasiswa untuk sekolah dan kampus terpilih serta dengan memasang jaringan WiFi dibeberapa fasilitas umum yang memungkinkan untuk menjadi tempat siswa/mahasiswa dapat mengakses internet guna mengerjakan tugasnya. Namun kembali lagi, dukungan pemerintah ini tidak dapat dirasakan untuk semua siswa sekolah dan perguruan tinggi, padahal baik sekolah/perguruan tinggi negeri maupun swasta sama-sama membutuhkan dukungan kuota gratis untuk dapat menjalani kewajibannya dalam menuntut ilmu dengan baik selama masa Pandemi ini.

3. Susah signal

Seperti yang sama-sama kita ketahui, bahwa pada awal terjadinya Pandemi ini semua sekolah, perguruan tinggi, pabrik, maupun perkantoran ditutup sementara, yang akhirnya membuat para siswa dan mahasiswa yang berada di perantauan mengambil keputusan untuk kembali ke kampung halamannya. Dalam kondisi yang seperti ini mereka kembali menemui masalah, karena di berbagai daerah kualitas semua jaringan maupun provider tidak sebaik saat berada di perkotaan, sebagian dari mereka harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan signal yang stabil agar dapat mengikuti kegiatan daring dengan baik.

4. Adanya distraction dari lingkungan sekitar

Gangguan lain tak jarang hadir dari lingkungan sekitar, yang paling dekat dengan kita ialah lingkungan keluarga. Beberapa kasus terjadi karena kuliah mereka lakukan sambil menyambi pekerjaan lain, baik membantu pekerjaan rumah, menggantikan tugas orangtua dan guru untuk menjaga dan mengajari adik mereka bersekolah, mengurus bisnis keluarga dan mengadakan acara keluarga yang mengharuskan mereka mengesampingkan urusan mencari ilmu dengan lebih memilih kegiatan di rumahnya masing-masing.

5. Rentan terjadi kecurangan

Pada masa ujian ataupun kuis harian tak jarang dari mereka pun saling berbagi kunci jawaban yang semestinya tidak mereka lakukan, berbagi jawaban maupun mencontek merupakan hal yang tabu apabila kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, karena guru maupun dosen akan lebih memprioritaskan pengawasan mereka terhadap seluruh peserta ujian dan memberlakukan punishment bagi siapa saja yang melanggar.

6. Memiliki Prilaku di luar kebiasaan baiknya

Faktor yang terakhir adalah banyaknya siswa dan mahasiswa akhirnya memiliki model prilaku yang biasa disebut oleh para ahli psikologi dengan behavioral models.

Student syndrome adalah salah satu jenis kebiasaan yang sering dilakukan oleh para siswa/mahasiswa yang cenderung sering menunda pekerjaannya hingga akhir batas waktu yang ditentukan. Kebiasaan seperti ini tidaklah bisa dibenarkan karena menunda pekerjaan akan mengurangi waktu produktif mereka dalam mengerjakan sesuatu, belum lagi kadaan ini diperparah dengan para staf pengajar yang memberikan kelonggaran karena memaklumi keterbatasan kondisi #dirumahsaja yang semakin membuat para siswa/mahasiswa merasa aman dengan batas waktu yang telah ditentukan, namun kemudian merasa panik yang berlebih ketika sudah mendekati deadline.

Kemudian ada pula istilah Parkinson Law atau hukum Parkinson yang cenderung mengerjakan sesuatu dengan memenuhi waktu yang tersedia, misalnya pada saat mahasiswa diberikan tugas membuat makalah mengenai penelitian dan diberi waktu 7 hari untuk berjaga-jaga, kemudian mahasiswa itu memenuhi tugasnya dengan memakai seluruh hari yang tersedia, padahal mereka bisa menggunakan waktu 3 hari untuk menyelesaikan tugasnya apabila mereka serius mengerjakan dengan maksimal tanpa menundanya sedikitpun.

Kebiasaan yang ketiga terjadi karena faktor Herzberg (kepuasaan dan ketidakpuasan kerja masing-masing yang ditentukan oleh faktor yang berbeda), Kebiasaan ini bisa saja terjadi ketika dalam suatu kelompok diberikan tugas yang kemudian semua sudah dibagi rata sesuai dengan kategorinya masing-masing, namun pada akhirnya hanya ada satu orang yang dapat mengerjakan keseluruhan tugasnya karena merasa tak bisa mengorbankan nilainya hanya dengan mengikuti teman-temannya yang tidak mengerjakan tugas dengan baik. Hal ini jelas menimbulkan sebuah gesekan dalam kelompok terlepas dari hasil kerja yang diperoleh nantinya.

Hal-hal tersebut akhirnya tanpa disadari menjadi faktor penyebab siswa dan mahasiswa terjebak dalam zona nyaman yang mereka buat sendiri. Banyaknya distracing tanpa ada usaha untuk memperbaikinya hanya akan membuat diri semakin lama semakin larut pada kondisi yang tak seharusnya. Waktu produktif akan dengan cepat berlalu tanpa hasil apa-apa. Oleh karena itu, yuk mari ubah habits kurang baik yang kamu jalani selama proses daring ini dengan cara-cara sederhana namun dapat membantu kamu segera keluar dari comfort zone.

1. Perbaiki dan perkuat niatmu

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki niatmu, tanpa kamu sadari niat adalah satu kunci utama dalam hidup seseorang, niat dan tekad yang baik akan membawamu kepada jalan baik selanjutnya. Niat dan tekad diperlukan karena sesering apapun kamu membaca quote motivasi dan sebanyak apapun orang memberikanmu dukungan, apabila perubahan itu tak kamu mulai dari dirimu sendiri orang lain takkan mampu merubahmu. Ingat lagi tujuan apa yang ingin kamu capai dengan kamu bersekolah atau melanjutkan pendidikan di bangku perguruan tinggi ini. Renungkan seberapa banyak pengorbanan dirimu dan orang-orang terdekatmu dalam membantumu untuk berada di posisimu sekarang, akankah kamu tega mengkhianati perjuangan mereka?

2. Prepare yourself

Persiapkan dirimu minimal 30 menit sebelum kelas dimulai. Buatlah dirimu seolah-olah akan pergi menuju sekolah/kampus. Mandi, mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, sarapan, dan tak lupa untuk menyediakan minum agar selama proses daring berlangsung, kamu tidak terganggu dengan alasan harus keluar ruangan belajar karena membutuhkan minum.

3. Persiapkan ruang belajar

Percaya atau tidak ruang belajar yang nyaman, tanpa gangguan bunyi atau lalu lalang orang akan cukup membantumu dalam menerima transfer ilmu yang diberikan oleh guru/dosenmu. Berikan pengertian pada orang rumahmu agar dapat memaklumimu ketika sedang menjalani daring, dengan begitu akan membuat mereka segan atau paling tidak akan berpikir ulang untuk mengganggumu di waktu pembelajaran berlangsung.

4. Menyimak materi dengan baik dan membuat catatan

Hal seperti ini sangat penting untuk dilakukan karena ilmu ialah seperti hewan ternak, apabila tidak diikat ia akan lepas (kabur) dari pemiliknya, mengikat ilmu adalah dengan membuat catatan.

5. Membuat remainder untuk jadwal kuliah serta deadline tugas.

Setelah pembelajaran berakhir, maka segeralah membuat remainder untuk batas akhir pengumpulan tugas serta kapan pertemuan selanjutnya akan berlangsung, tidak menunda tugas yang diberikan adalah salah satu tips agar dirimu menjadi tenang saat sesuatu yang tak terduga hadir sebagai halanganmu untuk mengerjakan tugas.

6. Mengola stres dengan cara menyalurkan diri pada kegiatan positif

Pada usia sekarang kamu sudah seharusnya bersikap dewasa, harus pintar mengatur ritme kegiatan yang kamu lakukan sehari-hari. Kegiatan serius (berpikir keras) harus diimbangi dengan kegiatan relaksasi (olahraga, istirahat yang cukup, dan penyaluran diri pada hobi) yang dapat membuat tubuh kita lebih fresh setelah seharian berjibaku dengan ilmu. Jangan lupa untuk mengukur diri apabila ingin menambah kesibukan.

7. Jangan gengsi mengaku sakit

Ketika kamu #dirumahsaja bukan berarti kamu tidak akan mengalami sakit seperti orang lain. Perubahan cuaca sedikit banyak akan tetap mempengaruhi kesehatanmu, janganlah ragu dan gengsi untuk mengaku bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja apabila tubuh mengalami beberapa keluhan, seburuk apapun pikiranmu mengenai kondisi di luar sana, akan lebih baik apabila kamu berusaha untuk tetap baik-baik saja dengan segera berobat, tetap sayangi orang-orang terkasih dengan menjaga diri.

8. Jangan ragu untuk berkata “TIDAK”

Pada beberapa kesempatan berkata tidak adalah hal yang harus kita lakukan guna menyelamatkan diri agar tidak terjebak pada jurang penyesalan. Berkata tidak pada tawaran teman untuk berkumpul saat ada tugas ataupun jadwal kuliah yang sedang berlangsung merupakan hal yang harus kamu lakukan, karena kamu harus tahu mana hal yang seharusnya menjadi prioritasmu dan mana yang bukan. Tentu saja kesenangan sementara bukanlah jalan keluar untuk manusia yang telah dikaruniai kematangan berpikir yang dewasa.

Habits sendiri berarti segala sesuatu yang kita lakukan secara otomatis dan terus menerus yang kemudian menjadi bagian dari diri kita, kita sering menyebutnya sebagai kebiasaan. Maka marilah kita mulai hal-hal baik agar menghasilkan suatu kebiasaan yang baik pula. Buatlah mencari ilmu adalah penting bagimu, bila kamu berpikir ilmu dapat ditemukan di manapun dan kapanpun tak hanya di bangku sekolah dan kuliah, maka mungkin adab ataupun etika dapat membuatmu berpikir ulang tentang itu. 

Ilmu dapat kau temukan di pojok kamarmu sembari berselancar di mesin pencarian seperti google dan sebagainya, namun etika atau orang muslim sering menyebutnya dengan adab dan akhlak baru bisa dibentuk ketika kita bertemu dengan orang lain, seperti teman, guru dan dosen kita. Karena dengan bergitu mereka tak hanya akan memberikan ilmu yang akan bermanfaat, tapi juga sebuah pengalaman hidupnya yang mungkin akan berguna juga untuk kita lakukan satu hari nanti. Semoga pandemi ini segera berlalu dan situasipun segera membaik, agar kita kembali lagi merasakan bagaimana disiplin ilmu sangat berperan bagi kehidupan kita, umat manusia seluruh dunia.


Oleh: Gilang Mustika (41803020) Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI 



Post a comment

0 Comments