Pendekatan Implementasi ERM pada Strategi Pengelolan Pondok Pesantren

 


Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan berbasis agama yang diharapkan mampu menciptakan individu yang religius, kompeten, dan bermanfaat bagi masyarakat. Di dalam kepesantrenan para santri selain di didik untuk berketuhanan dan berakhlakul karimah, juga di didik untuk memiliki sifat kepemimpinan, disiplin, dan bertanggung jawab. 

Karena di pesantren, santri akan terjun langsung untuk bagaimana mengelola sebuah organisasi dalam struktur organisasi kepesantrenan, menjalankan setiap kegiatan dan aktivitas sesuai waktu dan jadwal yang di tentukan, dan mendapatkan amanah kedepannya untuk membimbing masyarakat dalam ruang lingkup ibadah dan bermuamalah. Oleh karena itu maka penulis beranggapan bahwa penting nya akan kesadaran masyarakat untuk menaruh anaknya ke dalam pesantren.

 Setelah kita mengetahui akan pentingnya keberadaan sebuah pesantren dalam lembaga pendidikan. Maka ada baiknya jika kita mengetahui strategi pengelolaan pondok pesantren dengan pendekatan implementasi ERM untuk memberikan panduan akan langkah yang akan dijalani kedepan dengan informasi data dan pengalaman yang sudah terjadi sebelumnya. Ada 4 aspek pengelolaan dalam sebuah pesantren yang harus dijalankan, yaitu pengelolaan SDM, pengelolaan peserta didik, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan kurikulum.

 Penglolaan SDM dalam sebuah pesantren adalah bagaimana mengupayakan tenaga kependidikan memiliki kompetensi dalam bidang pengajaran kepada peserta didik, berintegritas, dan memberikan contoh yang baik. Upaya menyiapkan tenaga kependidikan adalah dengan penerapan manajemen sumber daya/HRD. Pengelolaan peserta didik adalah upaya pesantren dalam penerapan program kegiatan pesantren yang sudah di atur dan disusun oleh kurikulum kepesantrenan. Santri sebagai objek didik diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan dikehidupan nyata dengan nilai-nlai islami sebagai hasil pembelajaran yang sudah di tempuh.

 Pengelolaan keuangan adalah sebuah bagian pondasi dari berdirinya pesantren tersebut, karena jika tidak terkelola dengan baik akan menghambat proses kegiatan dalam kepesantrenan. Adapun tujuan pengeleloaan keuangan adalah; menjaga arus kas, mempersiapkan struktur modal, meningkatkan efisiensi, mengurangi resiko operasinal, memastikan kelangsungan kehidupan pesantren, dan lain sebagainya. Pengelolaan kurikulum adalah aturan yang dibuat secara sistematis mengenai program pembelajaran apa yang akan dijalankan untuk mengefektifkan kegiatan di pesantren, sebagai parameter pencapaian pembelajaran dan meningkatkan kemampuan pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran.

 Dalam praktek pengelolaan pesantren di lapangan akan selalu ada resiko yang akan di hadapi, resiko tidak dapat ditolak namun bisa direncanakan bagaimana cara menanganinya dengan tepat. Contoh seperti dalam pengelolaan peserta didik, masalah seperti santri melanggar peraturan berpakaian, waktu, dan sikap. Maka pesantren harus merencanakan solusi apa yang sebaiknya dilakukan terhadap peserta didik tersebut dan memberi pendekatan yang sesuai agar tidak mengulanginya lagi. Apabila pesantren sadar akan pentingnya sebuah manajemen resiko dengan cara menerapkan standar internasional atau biasa disebut sebagai ISO. Dengan menerapkan ISO artinya pesantren membuat sebuah pedoman dalam operasinal pesantren. Maka pesantren akan berpatokan pada sistem, bukan manusia. Karena jika berpatokan pada manusia, manusia pada saatnya akan berganti.

 Standar manajemen risiko ISO 31000:2018 Risk management – Guidelines telah resmi dirilis oleh International Organization for Standardization pada tanggal 14 Februari 2018. Tidak ketinggalan, praktisi manajemen risiko di Indonesia mengadakan pengenalan resmi standar tersebut. Center for Risk Management Studies (CRMS) dan Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA) mengadakan acara pengenalan dan sosialiasi standar ISO 31000:2018 di Jakarta, 15 Maret 2018.

Acara pengenalan tersebut didukung penuh oleh Komite Teknis (Komtek) 03-10 Manajemen Risiko Badan Standardisasi Nasional (BSN). Standar manajemen risiko versi terbaru tersebut merupakan pengganti dari standar sebelumnya, ISO 31000:2009 Risk management – Principles and guidelines.

Dalam paparannya, Sekretaris Jenderal IRMAPA Charles R. Vorst, menyampaikan beberapa poin penting dalam ISO 31000:2018, yakni:

• Prinsip “Manajemen risiko menciptakan dan melindungi nilai” menjadi hakekat tujuan dari penerapan manajemen risiko. Alih-alih hanya sebagai salah satu prinsip manajemen risiko, ISO 31000:2018 menyatakan bahwa penciptaan dan perlindungan terhadap nilai organisasi menjadi maksud dari keseluruhan penerapan manajemen risiko di lingkungan organisasi;

• Penerapan manajemen risiko dimulai dan menjadi bagian dari tata kelola organisasi. Praktik manajemen risiko harus diintegrasikan dengan proses-proses organisasi. Keberadaan kerangka kerja manajemen risiko ditujukan agar organisasi dapat melaksanakan integrasi tersebut;§ Keterlibatan manajemen puncak dalam penerapan manajemen risiko memainkan peran yang sangat penting dan menentukan keberhasilan penerapan manajemen risiko organisasi;

• Keberhasilan penerapan manajemen risiko membutuhkan keterlibatan dari semua pihak dalam organisasi. Masing-masing pihak dalam praktik manajemen risiko sesuai peran, kewenangan, tugas, dan tanggung jawabnya di dalam organisasi;

• Adanya tambahan aktivitas “Pendokumentasian dan Pelaporan” dalam rangkaian proses manajemen risiko. Hal ini membawa pesan bahwa dokumentasi dan pelaporan manajemen risiko hanya merupakan salah satu aktivitas yang harus dilaksanakan dalam menjalankan proses manajemen risiko, bukan merupakan suatu keluaran terkespektasi yang menjadi fokus utama pelaksanaan praktik manajemen risiko.

Demikian uraian tersebut yang bisa disampaikan, penulis berharap dengan menyadari akan pentingnya implementasi ERM maka sebuah organisasi kepesantrenan akan berjalan dengan semestinya dan memiliki pinsip untuk jangka waktu kedepan.


Oleh : M Dhiyaul Haq kelas MBS18C , mahasiswia STEI SEBI Depok

Post a comment

0 Comments