Hadiah kecil dari Allah

Oleh: Khansa Fitya, Mahasiswi STEI SEBI Depok


 “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. (HR.Bukhari no 5660 dan Muslim no 2571).


Hidup ini tidak luput dari cobaan dan ujian, cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau perkara yang menyenangkan. Sering kali kita mendengar manusia ketika ditimpa sakit malah mencaci maki, berkeluh kesah, bahkan yang lebih parah mereka meratapi nasib dan berburuk sangka dengan takdir Allah.


Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia yang tidak dapat dinalar oleh akal manusia. Banyak hal yang tidak dapat mengerti dari skenario-Nya. Terkadang, sering kita bertanya-tanya "mengapa saya harus merasakan rasa sakit dan cobaan ini?"

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 35)

Sahabat Ibnu ‘Abbas yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir Alquran menafsirkan ayat ini:

“Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir).

Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Agar kita manusia menjadi manusia yang terus bertaubat kepadanya. Dengan adanya rasa sakit, menandakan bahwa Allah mencintai hamba-Nya. Namun di balik yang dihadapkan, terdapat berbagai rahasia yang tidak dapat dinalar oleh akal manusia.

Salah satunya yaitu:

Membawa Keselamatan dari Api Neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Tidak ahsan bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shahih).

Hikmah di balik musibah

Di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak.

Ibnul Qoyyim rahimahullah pernah berkata:

“Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih).

Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya tuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanggungnya. Ditepa dengan rasa tidak nyaman, mengharuskan ikhlas yang terucap. Allah hadiahkan kesempatan tuk bercengkrama bersama Allah lebih dalam. Diberi kesempatan agar hati terus bertaubat kepada-Nya. Sakit, sebagaimana tiap ujian, bukan menguji kemampuan sebab telah ditakar sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna.

Selepas mengetahui ada virus yang bersemayam dalam tubuh tiap-tiap keluarga kami, berserah diri dan ikhtiar adalah jalan ninja kami. Terlebih dengan segala bentuk gejala yang meluluhlantahkan imunitas, terkuras tanpa batas. Panas tinggi, sesak nafas, muntah—kami lewati hari demi hari. Berita paling buruk, harus menerima kenyataan bahwa Bunda tercinta semakin buruk keadaannya. RSCM adalah tempatnya bermalam, terisolasi sendiri karena kondisi yang semakin memburuk.

Sakit adalah rasa ikhlas. Walau kadang ada rasa tersiksa ia berkilau karena tiada henti diasah dengan amal bermakna. Menerpa diri untuk selalu mengingat-Nya, memuji-Nya, tak lupa kuat ibadah ditengah rasa sesak yang melanda.

Sakit jembatan penggugur dosa. Murninya karena dilelehkan panas, dibakar agar kerak dan noda terlepas hingga kilaunya jelas. Dia menguji tiap hamba, dengan balasan tiap-tiap dosa yang berguguran karena ejaan ikhlas yang tertanamkan .

Sakit adalah hadiah untuk hamba-hambanya yang ikhlas dan bersabar, karenanya ia terbentuk karena adanya luka. Jauh di kedalaman samudera. Perlu keberanian tuk meraihnya. Berhusnudzon kepada Allah bahwa tidak hanya ada luka yang di dapatkan, tapi menghadirkan sesosok mutiara yang indah dan butuh perjuangan untuk melaluinya.

Karena bahwasannya sakit adalah hadiah kecil dari Allah dan ikhlas adalah selayaknya reaksi. Hal yang mudah jika benar-benar ikhlas dalam menerima scenario-Nya. Ikhlas, beriringan dengan doa-doa yang terlantunkan. Mengharapkan ridho-Nya serta ampunan-Nya.

Allah uji kami, dengan keikhlasan itu, melalui virus c19—kami bertarung. Kuharap, dia telah bersahabat, dan mau berpamitan dengan damai.

Kini dengan ikhlas, kata negatif, adalah hal yang paling kami rindukan.


Post a comment

0 Comments