Pacaran dan Khitbah, Sama Saja atau Berbeda?

        

Oleh: Heni Damayanti Mahasiswi STEI SEBI DEPOK



   Islam memandang lelaki dan wanita sama dalam penciptaan dan kemuliaannya, namun berbeda dalam fungsi dan penempatannya. Islam memberikan porsi khusus kepada wanita yang tidak diberikan kepada lelaki, sebaliknya Islam juga memberikan porsi khusus kepada lelaki yang tidak diberikan kepada wanita.4 Wanita dan lelaki berbeda secara fungsi dan penempatan, karena itulah aktivitas lelaki dan wanita tidak disamakan, namun terpisah secara asalnya. 

Dalam kehidupan Islam sebagaimana yang dapat kita baca dalam sejarah Rasulullah Saw. atau buku-buku yang menggambarkan kehidupan Islam pada masa Rasulullah Saw. aktivitas kaum lelaki dan wanita terpisah, kecuali dalam beberapa aktivitas khusus yang diperbolehkan syariat. Misalnya, Islam menggariskan bahwa perempuan harus menutup aurat di hadapan lelaki yang bukan mahramnya, memerintahkan perempuan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan dan kemuliaannya di hadapan lelaki. 

Wanita tidak boleh melakukan tabbaruj yang dapat menggoda lelaki. Menurut Ibnu Manzhur, tabarruj itu sebagai wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasan kepada lelaki. Tabbaruj adalah segala perbuatan (pakaian, riasan, atau tingkah) wanita yang menarik perhatian lelaki, baik diniatkan ataupun tidak.

          Adapun perbedaan antara pacaran dan khitbah adalah pacaran tidak terkait dengan perencanaan pernikahan, sedangkan khitbah merupakan tahapan untuk menuju

pernikahan. Dalam khitbah tidak di perkenankan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, sementara dalam praktek pacaran seringkali remaja melampaui batas dari yang di gariskan oleh agama & pacaran tidak selalu di kaitkan dengan rencana pernikahan, tetapi dalam khitbah selalu di kaitkan dengan pernikahan. Banyak sekali dampak negatif yang terjadi di kalangan remaja pada saat melakukan pacaran yaitu adanya perzinaan dan perilaku yang dapat merusak moral bangsa dan agama.

          Pada dasarnya pacaran merupakan suatu bentuk pergaulan antar lawan jenis yang memiliki tujuan tertentu. Selama bisa menghindari dan mengendalikan diri dari perbuatan zina maka tidak apa-apa. Namun memang alangkah lebih baiknya bila menjauhi segala perbuatan yang dapat mendekati perbuatan zina. Islam tidak mengenal pacaran dalam percintaan, melainkan Islam menggunakan metode ta’aruf dan khitbah dalam percintaan. 

Pacaran yang dilakukan pada budaya melayu zaman dahulu pun sesuai dengan hukum-hukum Islam antara laki-laki dan perempuan serta memiliki tujuan yang baik yaitu bertujuan untuk menikah. Sedangkan pacaran masa kini tergantung substansinya, yaitu bergantung individunya dan bagaimana aktivitas dalam pacarannya. Islam mengajarkan jika seseorang tertarik dengan lawan jenis namun belum mampu atau siap untuk menikah maka berpuasalah dan bila sudah mampu dan siap maka bersegeralah menikah dengan beberapa cara memantaskan diri lebih dulu, laki-laki siap menjadi imam dan siap menafkahi lahir-batin, sedangkan wanita harus mempersiapkan diri untuk siap mematuhi suami dan apabila laki-laki tertarik pada seorang wanita, maka datangi walinya untuk melamar putrinya dan bila wanita tertarik pada seorang laki-laki maka utuslah seorang perantara untuk menyampaikan niat dari wanita yang ingin dinikahi oleh laki-laki tersebut.

        Maraknya budaya Barat yang masuk ke Indonesia khususnya bagi generasi muda, tampaknya fenomena pacaran memang telah menjadi bagian hidup bagi setiap orang karena pada saat ini siapa yang tidak tahu tentang istilah pacaran. Hampir seluruh lapisan masyarakat dari segala usia pasti mengenal kata pacaran dan mengerti apa yang dimaksud dengan pacaran.

          Sering kali kita mendengar keluhan orang tua yang kebingungan menghadapi anak-anaknya yang sulit patuh, keras kepala dan nakal. Usaha untuk menanggulangi kemerosotan moral itu telah banyak dilakukan, baik oleh lembaga keagamaan, pendidikan, sosial dan instansi pemerintah. 

Namun hasil pembendungan arus yang berbahaya itu belum tampak, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Maka dari itu, lebih baik sedini mungkin mengedukasi kan kepada anak tentang menjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, agar kelak ketika si anak beranjak dewasa, kebiasaan - kebiasaan baik yang telah diajarkan orangtuanya pun akan selalu si anak ingat dan lakukan.


Post a comment

0 Comments