Peluang dan Ancaman Perbankan Syariah di Era Revolusi Industri 4.0

 

Oleh : Nur Alfia Kurnia Hasan (Mahasiswa STEI SEBI)

Ekonomi digital kini memasuki era baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Menipisnya batas antar dunia maya dan dunia nyata mempengaruhi kehidupan, salah satunya sektor perbankan. Penetapan lingkungan yang efektif dan aman agar berhasil dan mampu mentransformasi semua sektor, terutama sektor ekonomi dan bisnis di Indonesia, harus diikuti dengan penerapan industri generasi keempat.

Revolusi industri 4.0 menawarkan tentang peluang serta ancaman terhadap keberlangsungan usaha yang sudah mapan sekalipun, tidak terkecuali lembaga perbankan syariah. Adapun manfaat dasar dari revolusi digital yaitu yang pertama terkait dengan optimalisasi produk yang mendorong optimalisasi keuntungan usaha. Yang kedua terkait orientasi yang dimana revolusi industri 4.0 dapat menciptakan pasar fleksibel yang berorientasi kepada nasabah akan membantu masyarakat untuk mengakses produk-produk perbankan secara tepat dan mudah. Manfaat yang ketiga mendorong adanya pendidikan dan penelitian.

Pelaku ekonomi kreatif dan lembaga perbankan syariah harus mampu berfikir kreatif dan optimal dalam Revolusi Industri 4.0, dalam mempersiapkan diri menghadapi segala tantangan dan peluang yang diciptakan oleh era ini. Era revolusi industry 4.0 dapat mendorong bank-bank syariah untuk berinovasi, seperti yang kita liat sekarang transaksi pada era revolusi industri 4.0 lebih banyak melibatkan dunia maya (e-money). Adapun peluang perbankan syariah untuk membangun barang dan jasa guna menghadapi industri 4.0 yaitu pertama, human capital yang profesional, kedua technical maturity, ketiga produk yang dibutuhkan masyarakat dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Disrupsi tidak hanya diartikan fenomena perubahan hari ini (today change) tetapi juga mencerminkan makna perubahan hari esok (the future change). Prof Clayton M. Christensen, ahli administrasi bisnis dari Harvard Business School, menjelaskan bahwa era disrupsi telah mengganggu atau merusak pasar-pasar yang telah ada sebelumnya tetapi juga mendorong pengembangan produk atau layanan yang tidak terduga pasar sebelumya, menciptakan konsumen yang beragam dan berdampak terhadap harga yang semakin murah.

Di sisi lain, Bank syariah menghadapi ancaman yang signifikan dalam konteks revolusi industri 4.0, Implementasi IoT dalam berbagai elemen kehidupan termasuk industri keuangan kesenjangan masyarakat akan semakin kentara. Dengan IoT, banyak peran manusia yang akhirnya akan tergantikan dengan mesin robot. Tantangan selanjutnya mengenai keamanan data penggunaan IoT, dalam perbankan prinsip kehati-hatian mengenai data nasabah sangat dijaga. Dengan menggunakan IoT memanfaatkan big data tersebut, bukan tidak mungkin banyak pihak yang mungkin saja dapat meretasnya untuk kepentingan lain. Dan tentu saja ini sangat merugikan bagi pihak bank maupun nasabah. Oleh sebab itu, keamanan data dalam revolusi Industri 4.0 menjadi perhatian utama.

Selain kedua tantangan tersebut, tantangan yang selanjutnya adalah mahalnya biaya yang diperlukan. Teknologi semakin canggih akan semakin menunjang keberhasilan usaha dalam revolusi Industri 4.0, akan tetapi semakin canggih teknologi berarti pula semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya. Dan bagaimana produk dan layanan dapat dioptimalkan untuk merangsang pertumbuhan dan persaingan di sektor ekonomi dan bisnis. Oleh karena itu, perbankan diharapkan dapat lebih beradaptasi dengan pertumbuhan era perbankan digital 4.0.

Transaksi pada masa yang akan datang lebih melibatkan sistem syariah, dalam hal ini peran milenial akan menjadi sangat penting karena generasi milenial yang akan lebih meguasai perkembangan teknologi dan akan meciptakan peluang-peluang lain dalam pertumbuhan perbankan syariah.


Post a comment

0 Comments